Workshop Urban Farming Kenalkan Budidaya Tanaman untuk Kebutuhan Dapur dan Sehari-hari




Jember — Kampung Literasi Kaliurang akan menggelar Workshop Urban Farming (Hidroponik & Nonhidroponik) sebagai ruang belajar bagi generasi muda untuk mengenal cara bercocok tanam yang dapat diterapkan di lingkungan rumah dengan lahan terbatas. Kegiatan ini mengangkat konsep pertanian perkotaan yang tidak hanya menghasilkan tanaman untuk kebutuhan dapur, tetapi juga dapat mendukung kebutuhan sehari-hari serta menciptakan lingkungan yang lebih hijau dan produktif.

Workshop akan dilaksanakan pada Minggu, 23 Agustus 2026, pukul 09.00–12.00 WIB, bertempat di The Jannah Institute, Kaliurang Cluster B4, Lingkungan Krajan Timur, Kelurahan Tegal Gede, Kecamatan Sumbersari, Kabupaten Jember. Kegiatan ini terbuka secara gratis khusus bagi pelajar SMP-SMA.


Bertani di Lahan Terbatas

Urban farming atau pertanian perkotaan menjadi salah satu alternatif untuk tetap bercocok tanam meskipun memiliki keterbatasan lahan. Rumah dengan halaman kecil, teras, maupun ruang kosong lainnya dapat dimanfaatkan untuk menanam berbagai jenis tanaman yang bermanfaat.

Melalui workshop ini, peserta akan dikenalkan dengan budidaya tanaman yang dekat dengan kehidupan sehari-hari, seperti pakcoy, terong, cabai, serta berbagai tanaman lain yang dapat dimanfaatkan untuk kebutuhan dapur dan kebutuhan sehari-hari.

Pakcoy dapat menjadi pilihan sayuran untuk konsumsi keluarga, sedangkan terong dan cabai merupakan tanaman yang umum digunakan sebagai bahan masakan. Selain itu, konsep urban farming juga dapat diterapkan untuk menanam berbagai tanaman lain sesuai kebutuhan, kondisi lingkungan, dan ketersediaan ruang.

Dengan demikian, urban farming tidak hanya dipandang sebagai kegiatan menanam tanaman, tetapi juga sebagai upaya memanfaatkan lahan yang ada agar lebih produktif. Hasilnya dapat mendukung kebutuhan rumah tangga sekaligus memberikan pengalaman belajar yang berharga bagi generasi muda.


Mengenal Hidroponik dan Nonhidroponik

Sesuai tema kegiatan, peserta akan diperkenalkan pada dua metode budidaya, yaitu hidroponik dan nonhidroponik.

Hidroponik merupakan metode bercocok tanam dengan memanfaatkan air dan larutan nutrisi tanpa menggunakan tanah sebagai media utama. Metode ini menarik diterapkan di wilayah perkotaan karena dapat menjadi solusi untuk bercocok tanam pada lahan yang terbatas.

Sementara itu, metode nonhidroponik dapat menggunakan tanah maupun media tanam lainnya. Metode tersebut lebih dekat dengan praktik bercocok tanam konvensional yang selama ini dikenal masyarakat.

Dengan mempelajari kedua metode tersebut, peserta dapat memahami bahwa menanam tanaman tidak selalu membutuhkan lahan yang luas. Mereka dapat memilih metode yang sesuai dengan kondisi rumah, sekolah, maupun lingkungan sekitar.


Belajar Memenuhi Kebutuhan dari Lingkungan Sendiri

Salah satu nilai penting dari urban farming adalah mengajarkan pemanfaatan sumber daya yang tersedia di sekitar kita. Tanaman yang ditanam tidak harus selalu dalam skala besar. Dimulai dari beberapa tanaman di rumah, kegiatan tersebut dapat menjadi kebiasaan yang memberikan manfaat secara berkelanjutan.

Menanam cabai, misalnya, dapat menjadi pengalaman sederhana untuk memenuhi sebagian kebutuhan bumbu dapur. Begitu pula dengan menanam pakcoy atau terong yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan makanan. Jenis tanaman lainnya juga dapat dikembangkan sesuai kebutuhan keluarga.

Bagi pelajar, pengalaman tersebut dapat menumbuhkan kesadaran bahwa kebutuhan sehari-hari dapat dipenuhi sebagian melalui usaha sederhana yang dimulai dari rumah. Selain memberikan manfaat praktis, kegiatan menanam juga mengajarkan kesabaran, ketelitian, tanggung jawab, dan kepedulian terhadap lingkungan.


Siapa yang Menjadi Narasumber?

Workshop Urban Farming menghadirkan Tim UPA Taman Agroteknologi Universitas Jember sebagai narasumber. Peserta akan mendapatkan wawasan mengenai teknik budidaya tanaman melalui pendekatan hidroponik dan nonhidroponik serta penerapannya dalam kehidupan sehari-hari.

Kegiatan ini diselenggarakan oleh Kampung Literasi Kaliurang bersama sejumlah lembaga dan mitra yang tercantum dalam poster kegiatan, antara lain Universitas Jember, LP2M, BiMA, Beranda Pustaka, The Jannah Institute, The Jannah Institute Library, serta Kelurahan Tegal Gede.

Kolaborasi tersebut menjadi bagian dari upaya menghadirkan kegiatan literasi yang tidak hanya berfokus pada membaca dan menulis. Literasi juga dapat diwujudkan melalui pengetahuan dan keterampilan praktis yang dapat diterapkan untuk menjawab kebutuhan kehidupan sehari-hari.


Mengapa Urban Farming Penting bagi Pelajar?

Mengenalkan urban farming kepada pelajar merupakan langkah untuk membangun generasi yang lebih peduli terhadap lingkungan sekaligus memiliki keterampilan praktis. Melalui kegiatan menanam, peserta dapat memahami proses pertumbuhan tanaman dan kebutuhan dasar tanaman agar dapat berkembang dengan baik.

Lebih dari itu, urban farming dapat menumbuhkan kreativitas dalam memanfaatkan ruang. Lahan yang terbatas bukan berarti tidak dapat digunakan untuk menghasilkan sesuatu yang bermanfaat.

Dari tanaman pakcoy, terong, cabai, dan tanaman lainnya, peserta dapat belajar bahwa kegiatan sederhana di rumah dapat memberikan manfaat bagi keluarga. Dalam jangka panjang, kebiasaan tersebut juga dapat mendorong terciptanya lingkungan yang lebih hijau, sehat, dan produktif.

Kampung Literasi Kaliurang berharap workshop ini dapat menjadi pengalaman belajar yang menyenangkan sekaligus memberikan keterampilan yang bermanfaat. Melalui urban farming, para pelajar diajak untuk mengenal tanaman, memanfaatkan lahan yang tersedia, serta memahami bahwa pertanian dapat dimulai dari lingkungan terdekat.

Urban farming pada akhirnya bukan hanya tentang menghasilkan pakcoy, terong, cabai, atau tanaman lainnya. Lebih jauh, kegiatan ini merupakan proses belajar untuk memanfaatkan lingkungan, mengenal sumber pangan, memenuhi sebagian kebutuhan sehari-hari, dan membangun kemandirian sejak dini. Dari lahan kecil, dapat tumbuh tanaman. Dari tanaman, dapat tumbuh keterampilan. Dan dari keterampilan, dapat tumbuh generasi muda yang lebih mandiri, kreatif, serta peduli terhadap lingkungan.

Mari belajar, menanam, dan tumbuh bersama melalui literasi yang dekat dengan kehidupan. Membaca hari ini, menginspirasi esok nanti.

0 Komentar